Saat dua orang melihat pohon kelapa yang sama, bisa saja bilang tingginya beda. Bagaimana mungkin? Mungkin saja seorang melihat dari teras rumahnya yang hanya berlantai satu. Mungkin juga yang satu melihat pohon kelapa dari terasnya yang berada di lantai dua. Standarnya mereka berbeda pasti tentang seberapa tinggi pohon kelapa dengan melihatnya. Namun jika dibilang dalam standar ukur misalnya tinggi pohon kelapa adalah sepuluh meter. Mereka pasti sepakat. Yang dibutuhkan adalah ukuran mungkin??
Di sini permasalahannya adalah perbedaan kita dalam melihat standar.
Dari contoh yang paling dekat disekitarku dan sering aku alami. Banyak teman-teman terlihat berkerudung di tempat umum, namun menjadi terlihat tak berkerudung jika aku sedang maen ke kosannya sekedar untuk meminjam catatan. Kenapa ada standar yang diturunkan? Alasan yang aku dapat karena aku adalah orang yang dianggap temannya, jadi gak masalah melihat penampilan asli mereka.
Menurutku itulah yang menjadi masalah dan dengan segala kemakluman aku permasalahkan. Bukan untuk menghakimi atau menyudutkan dalam titik yang salah. Namun ada yang ingin aku dapatkan disana. Psikologi barat mungkin mengatakan teman-temanku yang tidak berkerudung adalah diri dan kepribadian mereka yang sebenarnya, namun dalam kepribadian menurut perspektif psikologi islam yang sedikit pernah aku baca bahwa diri seseorang bukan hanya apa adanya mereka. Upaya muslim dalam membingkai dirinya dengan ajaran islam juga termasuk kepribadian mereka. Jabarannya islam mengajarkan muslim haruslah menjadi gambaran-gambaran norma yang ada dalam ajaran islam. Kita sebagai penganut muslim punya standar, kenapa harus melepaskannya. Islam memang sangat toleran dalam kemanusiaan namun tidak untuk aqidah. Islam memiliki model hidup (life modelling) dan model simbolik (symbolic modelling) untuk membantu kita belajar. Nabi Muhammad SAW adalah simbolik terbaik untuk kita teladani namun simbol itu sangat terasa hidup dalam diri muslim yang lain sebagai model hidup untuk kita belajar secara langsung.
Aku ungkapkan yang ingin aku dapatkan. Kenapa teman-teman perempuan malah membiarkan dirinya terlihat tanpa atribut mulia yang biasa melekat. Itu menurutku menimbulkan banyak persepsi yang sekuler. Artinya memisahkan perilaku akhwat sekalian dari tuntunan keislaman. To the point-nya mari kita pertahankan standar diri kita sesuai dengan ajaran islam. Toh ketika perempuan membiarkan diri tetap terjaga oleh kerudung dimanapun, malah menunjukkan bagaimana para perempuan menjaga penghargaan pada teman-teman laki-laki muslimnya tetap dipertahankan. Alasannya para akhwat tidak memberikan toleransi pada teman-teman ikhwan untuk melihat auratnya, bentuk penghargaan yang cukup baik menurutku. Mengingatkan kalau suatu ketika seorang muslimah dengan sengaja memperlihatkan dirinya tanpa kerudung artinya sama saja memberikan toleransi ajaran agama yang harusnya terjaga. Negatifnya, persepsiku menganggap toleransi pada hal yang sifatnya aqidah seperti itu menjurus pada hal yang merendahkan nilai-nilai dalam islam. Tidak ada kompromi pada hal-hal yang mengarah ibadah dan atau hal yang mengarah pada keyakinan seorang insan pada Tuhan-nya (Nino Indrianto:2011).
Banyak keterbatasan atas pemahaman saya mengenai Islam sendiri....Menjadikan kekurangan saya dalam memprerspektifkan sesuatu dan menuliskannya dalam tulisan ini.



0 komentar:
Posting Komentar