Seperti tissue kadang-kadang kepakenya...
Menilai kerkurangan dengan lebih baik....
Memaknai sesuatu mungkin bukanlah sekedar menyederhanakan isyarat-isyarat rumit untuk mudah dicerna oleh akal kita. Ada ide lain untuk memaknai sesuatu, berkreasi dan mengekspresikan kata-kata menurut kewajaran akal dengan apa yang bisa kita terima, dengan baik tentunya.
Tidak ada manusia yang diciptakan sempurna, Kenapa?
Tentu sulit menemukan jawaban yang sempurna untuk menyelesaikan pertanyaan di atas.
Sebaik apapun manusia hanya bisa menyentuh batas terbaik bagi dirinya. Memang menurut Penelitian Howard Gardner manusia memiliki kecerdasan majemuk atau “Multiple Intelegence”. Sampai saat ini masih 9 kecerdasan yang ditemukan. Namun, berapakah manusia yang mencatatkan skala 100 pada kesembilan kecerdasan yang ditemukan Garner tersebut?
Jika pepatah berkata “tak ada gading yang tak retak”. Jadi gading yang retaklah yang sempurna...hehe
Sedikit uraian di atas bisa membantu kita untuk memulai memaknai angka kesempurnaan. Ketidak adaanya kesempurnaan membuat manusia memunculkan istilah perfectionis. Mungkin sekedar membuat kesempurnaan menjadi lebih manusiawi untuk manusia idamkan.
Sekarang waktu kita untuk belajar dari pemaknaan “SEMPURNA”. Manusia setua apapun ia akan menghabiskan hitungan masehi, limit pada kesempurnaan tetaplah terjaga dengan baik diluar kemampuan, kesadaran, dan pengharapan kita.
Selaras dengan Achjar Chalil dan Hudaya Latucosina dalam Pendidikan Berbasis Fitrah, bahwa manusia hanya bisa menyempurnakan kualitas dirinya. Maka, manusia hanya bisa berusaha dan menengukur seberapa standar kesempurnaan terbaik untuk dirinya (tidak bermaksud melebihkan, hanya salah satu cara untuk menilai).
Kekurangan, tentu semua sudah menyadari hal tersebut pasti sudah melekat pada semua manusia. Namun janganlah memberi angka yang rendah terhadap kekurangan tersebut. Hanya akan membuat kekurangan menjadi lebih sulit diterima, menjadi beban yang memberatkan, lubang-lubang buruk yang ditutupi dengan tutup-tutup yang dibaik-baikkan.
Belajar dari frasa -standar kesempurnaan-, layaknya kita menilai kekurangan dengan lebih baik. Artinya; membuat kekurangan tidak menjadi hal yang kurang juga untuk diterima. Pemaknaan tidak hanya secara verbal saja, tapi bisa juga lebih aplikatif dalam keseharian.
Anggap saja hidung kita pesek, rambut kita kribo, atau bahkan kaki kita pincang. Apabila kita menganggap hal tersebut wajar untuk kita bawa bergaul dengan orang lain, membalas dengan senyum manis setiap cemoohan yang melabeli kekurangan kita, penting untuk mengabaikan kekurangan tersebut. Tentu akan menjadi hal yang baik bukan??
Ada sesuatu yang sudah menjadi kodrat, dan menjadi salah jika kita mengubahnya dengan alasan apapun. Apa daya manusia tak mampu menahan hasratnya untuk
Untuk kekurangan yang bisa diperbaiki, pastilah membutuhkan persepsi yang berbeda.
Misalnya, beberapa waktu kita menjadi orang yang bodoh dalam kuliah manajemen, post tes dan pre tes tidak lulus, buruk pula dalam manajemen waktu, berpenampilan tidak rapi, membeda-bedakan teman. Perilaku yang tidak baik ataupun mengabaikan sesuatu yang bisa dibuat lebih baik tanpa membuatnya menjadi salah adalah kekurangan, persepsi itulah salah satu yang kita butuhkan ^_^.
Dengan persepsi yang berbeda, kita bisa mulai bekerja untuk sesuatu yang lebih baik. Manajemen, jika kita mau menghafal, memahami, syukur-syukur mau mencoba mengaplikasikannya kemungkinan ada hasil yang lebih dari sekedar kekurangan. Meskipun tidak mendapat nilai terbaik, jika aktivitas bekerja yang seperti itu terus di ulang pengaruhnya tentu bukan hanya pada manajemen, mungkin membuat manajemen menjadi waktu lebih baik. Sehingga waktu untuk berpenampilan rapipun tersedia, memiliki waktu dengan teman-teman baru. Cakep deh. Gaul...
Mungkin jawaban saya terlalu mengada-ada hehe :P.
Tapi jika kita yakin bahwa “Hasil yang maksimal hanya dari proses yang maksimal juga”. Dari pendapat tersebut jika kita pahami lebih dalam, proses yang maksimal sendiri adalah hasil. Apalagi kalau di biasakan dan terjaga dalam ke-istiqomah-an.
Coba kita mengada-ada lagi; jika kita berpenampilan rapi kita terlihat lebih fresh dan bersih tentunya. Banyak orang yang senang meilaht kita. Bahkan mungkin bisa mendapat pasangan yang kita idam-idamkan. Wah... dengan persepsi yang berbeda, kekurangan menjadi lebih baik bukan??
Berbeda dengan kekurangan, kelebihan sekecil apapun dan/atau yang amat membanggakan hanyalah bekal yang digunakana untuk menuai sesuatu yang manfaat. Pantaskah untuk membanggakannya?
Misalnya kita menjadi:
Orang yang amat boros kikir pula (perbuatan tercela kekurangan juga kan?). Setiap akhir bulan bisa dipastikan saldo keuangan kita adalah nol bahkan minus, setiap jum’at berangkat ke Masjid sengaja meninggalkan dompet dan tanpa membawa uang sepeserpun. Bagaimanakah memperbaikinya?
Menilai kerkurangan dengan lebih baik....
Memaknai sesuatu mungkin bukanlah sekedar menyederhanakan isyarat-isyarat rumit untuk mudah dicerna oleh akal kita. Ada ide lain untuk memaknai sesuatu, berkreasi dan mengekspresikan kata-kata menurut kewajaran akal dengan apa yang bisa kita terima, dengan baik tentunya.
Tidak ada manusia yang diciptakan sempurna, Kenapa?
Tentu sulit menemukan jawaban yang sempurna untuk menyelesaikan pertanyaan di atas.
Sebaik apapun manusia hanya bisa menyentuh batas terbaik bagi dirinya. Memang menurut Penelitian Howard Gardner manusia memiliki kecerdasan majemuk atau “Multiple Intelegence”. Sampai saat ini masih 9 kecerdasan yang ditemukan. Namun, berapakah manusia yang mencatatkan skala 100 pada kesembilan kecerdasan yang ditemukan Garner tersebut?
Jika pepatah berkata “tak ada gading yang tak retak”. Jadi gading yang retaklah yang sempurna...hehe
Sedikit uraian di atas bisa membantu kita untuk memulai memaknai angka kesempurnaan. Ketidak adaanya kesempurnaan membuat manusia memunculkan istilah perfectionis. Mungkin sekedar membuat kesempurnaan menjadi lebih manusiawi untuk manusia idamkan.
Sekarang waktu kita untuk belajar dari pemaknaan “SEMPURNA”. Manusia setua apapun ia akan menghabiskan hitungan masehi, limit pada kesempurnaan tetaplah terjaga dengan baik diluar kemampuan, kesadaran, dan pengharapan kita.
Selaras dengan Achjar Chalil dan Hudaya Latucosina dalam Pendidikan Berbasis Fitrah, bahwa manusia hanya bisa menyempurnakan kualitas dirinya. Maka, manusia hanya bisa berusaha dan menengukur seberapa standar kesempurnaan terbaik untuk dirinya (tidak bermaksud melebihkan, hanya salah satu cara untuk menilai).
Kekurangan, tentu semua sudah menyadari hal tersebut pasti sudah melekat pada semua manusia. Namun janganlah memberi angka yang rendah terhadap kekurangan tersebut. Hanya akan membuat kekurangan menjadi lebih sulit diterima, menjadi beban yang memberatkan, lubang-lubang buruk yang ditutupi dengan tutup-tutup yang dibaik-baikkan.
Belajar dari frasa -standar kesempurnaan-, layaknya kita menilai kekurangan dengan lebih baik. Artinya; membuat kekurangan tidak menjadi hal yang kurang juga untuk diterima. Pemaknaan tidak hanya secara verbal saja, tapi bisa juga lebih aplikatif dalam keseharian.
Anggap saja hidung kita pesek, rambut kita kribo, atau bahkan kaki kita pincang. Apabila kita menganggap hal tersebut wajar untuk kita bawa bergaul dengan orang lain, membalas dengan senyum manis setiap cemoohan yang melabeli kekurangan kita, penting untuk mengabaikan kekurangan tersebut. Tentu akan menjadi hal yang baik bukan??
Ada sesuatu yang sudah menjadi kodrat, dan menjadi salah jika kita mengubahnya dengan alasan apapun. Apa daya manusia tak mampu menahan hasratnya untuk
Untuk kekurangan yang bisa diperbaiki, pastilah membutuhkan persepsi yang berbeda.
Misalnya, beberapa waktu kita menjadi orang yang bodoh dalam kuliah manajemen, post tes dan pre tes tidak lulus, buruk pula dalam manajemen waktu, berpenampilan tidak rapi, membeda-bedakan teman. Perilaku yang tidak baik ataupun mengabaikan sesuatu yang bisa dibuat lebih baik tanpa membuatnya menjadi salah adalah kekurangan, persepsi itulah salah satu yang kita butuhkan ^_^.
Dengan persepsi yang berbeda, kita bisa mulai bekerja untuk sesuatu yang lebih baik. Manajemen, jika kita mau menghafal, memahami, syukur-syukur mau mencoba mengaplikasikannya kemungkinan ada hasil yang lebih dari sekedar kekurangan. Meskipun tidak mendapat nilai terbaik, jika aktivitas bekerja yang seperti itu terus di ulang pengaruhnya tentu bukan hanya pada manajemen, mungkin membuat manajemen menjadi waktu lebih baik. Sehingga waktu untuk berpenampilan rapipun tersedia, memiliki waktu dengan teman-teman baru. Cakep deh. Gaul...
Mungkin jawaban saya terlalu mengada-ada hehe :P.
Tapi jika kita yakin bahwa “Hasil yang maksimal hanya dari proses yang maksimal juga”. Dari pendapat tersebut jika kita pahami lebih dalam, proses yang maksimal sendiri adalah hasil. Apalagi kalau di biasakan dan terjaga dalam ke-istiqomah-an.
Coba kita mengada-ada lagi; jika kita berpenampilan rapi kita terlihat lebih fresh dan bersih tentunya. Banyak orang yang senang meilaht kita. Bahkan mungkin bisa mendapat pasangan yang kita idam-idamkan. Wah... dengan persepsi yang berbeda, kekurangan menjadi lebih baik bukan??
Berbeda dengan kekurangan, kelebihan sekecil apapun dan/atau yang amat membanggakan hanyalah bekal yang digunakana untuk menuai sesuatu yang manfaat. Pantaskah untuk membanggakannya?
Misalnya kita menjadi:
Orang yang amat boros kikir pula (perbuatan tercela kekurangan juga kan?). Setiap akhir bulan bisa dipastikan saldo keuangan kita adalah nol bahkan minus, setiap jum’at berangkat ke Masjid sengaja meninggalkan dompet dan tanpa membawa uang sepeserpun. Bagaimanakah memperbaikinya?



0 komentar:
Posting Komentar