(MAGENTA). “Sparkling Sastra” yang diusung sebagai jargon serangkaian kegiatan penutupan masa bakti BEMFA Sastra 2012 mulai dari Festival Budaya, Talkshow, dan MAGENTA malam puncak acara yang digelar pada 28 Nopember 2012 di Gedung Sasada Budaya UM. Bahana dan warna antara ungu-merah ini mengilustrasi ragam varian jurusan yang ada di FS. Seperti cuap-cuap MC yang berkali-kali dilontarkan pada malam MAGENTA “Seluruh penampilan malam ini mak cetaaaaarrrrr” seperti suara pecut, sambil berkali-kali mencgucap salam ala sastra seakan mengajak kami semua menjadi anak sastra malam ini.
Kepanikan turut berpartisipasi saking banyaknya yang berminat, 500 tiket “Sold out”, tike on the spot pun tidak jelas karena harus menunggu ketidakdatangan undangan. Hal tersebut malah menambah sensasi animo dari berbagai pihak mulai dari mahasiswa asing UMM, UB, Polinema, dan masyarakat luar yang ingin menyaksikan. Gerak-gerik REOG serta sambutan dari PD III FS, ketua pelaksana, dan musikalisasi puisi dari Ketua BEMFA Sastra menandakan acara akan dimulai, tepatnya pukul 19.30. Kembali ke Pintu masuk, sebelum masuk semua diberi buku KAMASASTRA yang merupakan kumpulan pemenang sayembara sastra bulan mei lalu. Exicting banget untuk mahasiswa dengan tiket seharga 5000 mendapat fasilitas serba extra.
Dua penampilan awal kontras dengan icon REOG yang kaya dengan budaya. Dua lagu dari “High Hell” Band cukup menghentak di tambah sexy dance yang pakaian salah satu personilnya melorot setengah badan dan coba berkali dinaikkan. Band dan sexy dance hanya intremezo. Kolaborasi merah-ungu yang akan menjadi MAGENTA baru dimulai. Perkusi Jawi berjalan dari belakang barisan penonton menghentak-hentakkan tongkat ke lantai, berhenti di panggung berbaris persis seperti jelajah pramuka. Gubrak-ding-dung-gong mengalun dengan irama semesta yang nikmat tak beraturan. Antara Aplause dan tawa penonton dengan aksi perkusi jawi saling membalas. Kompak tapi nyeleneh, jadi kagum dan kocak deh!
Dengan bangga MC pamer “Sastra Singer” FS yang terbaik di UM. Well. Busana Bali yang seragam dan berbagai alunan mereka lagukan, membuktikan yang dikatakan MC bukan omong kosong. Penampilan yang sungguh menyeribak kekaguman penonton, ada juga yang haru dan menangis. Hati bergetar mendengar suara singer-singer sastra di panggung, apalagi dipandu luesnya gerakan tangan dirigen. Usul punya usul sebagian mahasiswa tergabung di UKM PSM UM dan “Mereka sudah menguasai lagu dan teknik vokal, saya tinggal poles saja” kata sang dirigen. “Sastra Singer” menjadi Magenta-nya malam puncak acara BEMFA Sastra ini dan penampilan yang lain seakan bintang-bintang yang ber-sprakling. Just To Show The Best-lah.
Sayang sekali untuk penerima anugerah dresscode terbaik sudah pulang sebelum penghargaannya diterima, padahal acara puncak belum dimulai. Opera disuguhkan dengan judul “ASMARA SEKARTAJI CANDRA KIRANA” yang digarap oleh penggiat seni dan sastra yang cukup mapan di UM. Opera inilah magenta merah-ungu berbintang-bintang. Cerita Legenda Sekartaji memang populer diangkat di panggung, namun malam ini berbeda dengan sahutan gepukan perkusi dan alunan paduan suara bersahutan, diiringi alat musik modern. Dramatikalisasi pemeran putri Sekartaji menyita perhatian penonton, dikagetkan Panji Klana Swardana datang merayu. Menyusul Panji Asmorobangun yang sedang mesra bersajak bersama Dewi Anggraini, membuat Sekartaji gundah. Seandainya dikemas dengan bahasa jawa kalem pasti lebih nempel dengan tema dan mendapat banyak lagi sorakan penonton yang tersisa. Alur tersisa adalah pertempuan-pertempuan Panji Klana yang akhirnya takhluk pada REOG. Pukul 23.00 acara ditutup, semua penampil berdiri di panggung dan berterimakasih pada penonton dengan hormat badan ala jepang.
Komposisi musik dan paduan suara diantara teatrikal cerita “Sekartaji” terkesan lebih ditunggu. Mungkin faktor kesiapan yang membedakaannya. Jauh dari hal tersebut ungkapan Pembantu Dekan III FS, cukup mewakili rasa salut kepada segenap panitia yang telah menyelenggarakan acara penutup program kerja BEMFA Sastra tahun 2012. Pasalnya kepengurusan tahun ini dananya sangat minim dan tidak diizinkan untuk menarik dari mahasiwa. BEMFA Sastra dengan segala kerumitan organisasi dan warna karyanya membuktikan keterbatasan-keterbatasan, termasuk dana bukanlah alasan takut dan menyerah dalam berkarya. Waiting for next year present!
CETHAAAAAAAAAAAARRRRRRRR MEMBAHANA
SASTRA MBOIS.....



0 komentar:
Posting Komentar