Fenomena Penggunaan Ungkapan Alay danKonsep Solutifnya pada Siswa Kelas IV SDN Mulyorejo 3
Sekolah sebagai lembaga pendidikan berperan penting dalam pembentukan konsep diri akademis dan sosial siswa. Disadari bahwa siswa SD (6-12 tahun) belum mampu melihat siapa dan apa peran dirinya. Aktualisasi sebagai bagian dari proses perkembangan siswa juga berperan dalam pembentukan jati diri, salah satunya dengan penggunaan bahasa yang berbeda.Siswa kelas IV SDN Mulyorejo 3 menggunakan ungkapan alaysebagai ekspresi aktualisasi diri. Ungkapan alay, memuat gaya (intonasi dan emosi)penuturan bahasayang berlebihan. Contohnya jawaban “Kasih tau nggak ya?”(menggunakan gesture dan intonasi ala remaja Jakarta) pada orang yang bertanya. Membuat makna me
ncibir atau meremehkan orang lain, meskipun maksudnya candaan. Penggunaan ungkapan alay ini merupakan salah satu cerminan sikap hasil imitasi dari media yang belum jelas sejauh mana pengaruhnya pada siswa. Definisi bahasa yang luas memuat etnisitas atau konsep-konsep khas budaya yang muncul dari ekspresi bahasa (Kadarisman, 2009: 16). Fenomena penggunaan ungkapan alay menunjukkan kelunturan berbahasa dan pengaruh pada sikap serta perilaku siswa yang diangkat sebagai problematika. Dengan asumsi tersebut, p
embahasan yang dibuat bukan sekedar untuk menilai hasil pada titik positif atau negatif.
Perumusan Masalah
1. Bagaimanakah permasalahan penggunaan ungkapan alay di kelas IV?
2. Bagaimanakah fenomena penggunaan ungkapan alay di kelas IV jika dikaji dalam ilmu yang relevan?
3. Siapakah yangpihak yang perlu dilibatkan dalam mengupayakan solusi penggunaan ungkapanalay di kelas IV?
4. Bagaimanakah peran pihak dalam menyelesaikan pro
blematika penggunaan bahasa alay pada siswa puteri kelas IV?
Tujuan
1. Mengetahui kondisi dan pengaruh penggunaan ungkapan alay pada siswa kelas IV
2. Menjelaskan fenomena penggunaan ungkapan alay di kelas IV menurut kajian yang relevan
3. Menentukan pihak yang memiliki peran dalam mengupayakan solusi fenomena penggunaan ungkapan alay di kelas IV
4. Mendeskripsikan peran setiap pihak dalam mengupayakan solusi fenomena penggunaan ungkapan alay di kelas IV
PEMBAHASAN
Fenomena Penggunaan Ungkapan Alay di Kelas IV
Fenomena penggunaan
ungkapan alay di kelas IV sangat nampak pada salah satu kelompok siswa perempuan. Penggunaan ungkapan tersebut menyangkut sikap bahasa yang mencerminkan kognitif, afektif, dan konatif siswa. Kelompok tersebut terdiri dari beberapa siswa perempuan yang cukup mendominasi di kelas.Kelompok tersebut berasumsi bahwa ungkapan alay itu keren (ekspresi kebanggaan) jika digunakan dalam keseharian mereka. Jika ada ungkapa
n alay yang muncul maka mereka akan menyosialiasikannya pada yang lain. Fenomena di kelas IV SDN Mulyorejo 3, sedikit merefleksikan karakter anak Indonesia pada usia yang setara.
Menurut kelompok pengguna ungkapan alay tidak sopan dan tidak digunakan kepada guru. Permasalahannya siswa terlah mengabaikan ketidakteraturan sekaligus ketidakpantasan dalam berbahasa. Hal tersebut menunjukkan pola pikir siswa yang mendiskriminasi dalam interaksi sosial. Nampak ketika perbedaan bahasa dan gaya komunikasi dari kelompok ini lebih tinggi dari teman lainnya di kelas. Meskipun tidak semua, b
eberapa anggota dari kelompok pengguna ungkapan alay cenderung angkuh dalam berbicara yang kadang diiringi dengan perilaku menantang atau meremehkan. Penggunaan bahasa alay di kelas IV mendukung terciptanya lingkungan sosial yang timpang. Artinya, adanya kesenjangan pengakuan sosial serta ekslusufitas yang berakibat pada pergaulan di
kelas yang tidak akrab.
Pengabaian kepantasan berbahasa ini juga melewati batas sistem nilai yang berlaku di sekolah tersebut. Dalam keseharian sistem nilai yang dianut di sekolah yaitu menggunakan bahasa jawa dan bahasa indonesia. Munculnya ungkapan alay ini merupakan tanda munculnya penyerapan budaya global belum diakui di lingkungan tersebut. Penggunaan ungkapan alay ini juga ada yang mengabaikan makna negatif didalamnya seperti “Kamseupai” (kampungan sel
alu udik sekali). Kelompok pengguna ungkapan alay menggunakan bahasanya tidak pada masyarakat bahasa yang tepat. Selain itu pada entografi bahasa kelompok yang berbeda masih belum diterima dengan baik. Dari aspek kebudayaan, ungkapan alay membuat tutur bahasa lokal menjadi tersaingi dan mungkin juga akan luntur. Selayaknya masyarakat bahasa menjaga keutuhan unsur bahasa lokal mereka. Namun belum banyak yang peduli terhadap hal tersebut, tidak terkecuali lingkungan siswa tersebut belajar.
Kencenderungan kelompok tersebut mengarah pada kesamaan yang saling ditularkan antar anggotanya. Baik dan buruk hal yang ditularkan, lebih ditentukan oleh asumsi kelompok dari pada kesadaran individu. Salah satu anggota kelompok mampu mengendalikan kelompok merupakan pusat perhatian kelompok, individu pemimpin. Namun pemimpin tersebut memiliki karakter sosial tidak mau kalah, angkuh, melawan sistem yang dianggap tidak sesuai dengan dirinya, dan arogant. Kecenderungan dan karakter pemimpin kelompok mendukung pernyataan siswa lain yang mengungkapkan kelompok ini semena-mena dan provokatif yang membuat banyak siswa lain tidak menyukai perilaku tersebut.
Beberapa perilaku serta sikap siswa diperkuat oleh penggunaan ungkapan alay. Kehadiran pemimpin dengan karakter negatif dan kehadiran ungkapan alay membuat mereka sering tidak menyadari sikap dan perilaku tidak baik menurut norma. Contohnya jika ada anggota dalam kelompok tersebut berkonflik dengan orang lain kelompok tersebut keroyokan dan cenderung membela anggotanya. Tidak jarang dengan memaki-maki. Sejauh yang diketahui pengaruh penggunaan ungkapan alay turut memperkuat perilaku penggunanya.
Kajian Relevan Fenomena Penggunaan ungkapan Alay di Kelas IV
Penggunaan ungkapan-ungkapan alay awalnya sekedar joke atau lelucon pada komedi. Ungkapan alay kemudian muncul dengan berbagai varian kata, frasa, dan kalimat. Melalui berbagai media tersebut kemudian menular ke berbagai lapisanmasyarakat dan lintas umur. Munculnya ungkapan alay di sekolah sedikit mengusik penggunaan bahasa lokal dan bahasa Indonesia. Apalagi media yang sengaja memanfaatkan ungkapan alay untuk menciptakan komunikasi persuasif pada audiencenya.
Ungkapan alay merupakan ekspresi dan aktualisasi diri yang berkaitan dengan keterampilan berbahasa pada aspek semantik dan pragmatik. Keterampilan semantik merujuk pada makna kata atau cara yang mendasari konsep-konsep yang diekspresikan dalam kata-kata atau kombinasi kata. Pragmatik merujuk pada sisi komunikatif dari bahasa yang melibatkan intonasi, gesture, serta konteks yang memudahkan pemaknaan penerimanya (Asrori, 2008; 142). Ungkapan alay menggambarkan keterampilan semantik dan pragmatik yang berlebihan yang dipakai siswa. Misalnya pada kombinasi kata “ciyus miapah” yang artinya “serius demi apa”, terkadang penggunaanya tidak sesuai maknanya (semantik) disertai pengungkapan dengan gesture, intonasi, dan gaya komunikasi yang tidak umum dijumpai. Pemaknaan dan penyampaian suatu kata atau kombinasi kata tersebut diluar kontek dari psikolinguistik.
Psikolinguistik yang membahas perkembangan bahasa, siswa di kelas IV (5-10 tahun) mengalami pengembangan tata bahasa lanjutan. Tahap ini mengembangkan struktur tata bahasa dengan gabungan yang lebih kompleks lagi (Asrori, 2008; 144). Ungkapan alay merupakan upaya perbaikan dan penghalusan tata bahasa yang tidak mereka dapatkan dari bahasa mereka sehari-hari. Tahap perkembangan bahasa juga dibarengi perkembangan psikis remaja yang mencakup banyak aspek. Tahap tersebut berbeda dengan tahap sesudah maupun sebelumnya juga membuat siswa membangun serta menggunakan bahasa yang berbeda pula. Disitulah dapat dijelaskan kenapa terjadi penyimpangan norma umum dan penggunaan bahasa yang tidak dimengerti orang lain. Bahasa mencerminkan apa yang dipikirkan siswa (kognitif), apa yang dirasakan siswa (afektif), dan apa yang dilakukan siswa (konatif). Contohnya kalimat “Saya ingin menjadi juara, saya senang jika menjadi juara, maka saya akan belajar” yang mengandung ketiga unsur psikis kebahasaan. Akan memprihatinkan jika ungkapan alay sudah terinternalisasi dalam diri anak. Pikiran, perasaan, dan tindakan yang selaras akan sulit dirubah.
Fenomena ungkapan alay di kelas IV berkaitan dengan masyarakat bahasa dan etnografi dalam sosiolinguistik. Titik berat pengertian masyarakat bahasa pada perasaan menggunakan bahasa yang sama, maka konsep masyarakat bahasa dapat menjadi luas atau menjadi sempit. Etnografi bahasa merupakan bagaimana kita harus menggunakan bahasa itu dalam masyarakatyang sesuai diantara berbagai dialek dan ragam bahasa. Seorang pakar sosiolinguistik yang bernama Hmes mengatakan, bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur (Chaer, 1994: 63). Kedelapan hal tersebut adalah; (1) berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan, (2) orang yang terlibat dalam percakapan, (3)maksud dan hasil percakapan, (4) bentuk dan isi percakapan, (5) cara dan semangat dalam melakukan percakapan, (6) jalur percakapan, (7) norma prilaku peserta percakapan, dan (8) ragam bahasa yang digunakan.Penggunaan ungkapan alay menurut perspektif masyarakat bahasa, sehingga belum didapat diterima seutuhnya. Dan pada etnografi penggunaan ungkapan alay banyak tidak sesuai dengan delapan hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi.
Bahasa penting sebagai alat komunikasi. Perspektif psikis, sosial, budaya, dan pendidikan tentang bahasa penting disetarakan. Penggunaan ungkapan alay merupakan wujud pengkatulaisasian diri dan usaha menemukan kenyamanan dalam berbahasa. Perkembangan bahasa dan perkembangan kognitif terjadi bersamaan. Saat aktivitas berpikir siswa untuk mengabtraksikan apa yang dimaksud siswa mencari kata atau kombinasi kata untuk mengunkapkannya. Ungkapan alay merupakan ekspresi spekulatif proses berpikir siswa dalam abstraksi realita (sebutan dalam ilmu bahasa).
Pihak yang Memiliki Peran Dalam Mengupayakan Solusi Fenomena Penggunaan Ungkapan Alay Di Kelas IV
1) Guru
Guru profesional memiliki empat kompetensi sebagai pendidik yang berperan dalam memberikan solusi penggunaan ungkapan alay di kelas IV. Guru profesional memiliki empat kompetensi sebagai pendidik yang berperan dalam memberikan solusi penggunaan ungkapan alay di kelas IV. Menerapkan kompetensi kepribadian dengan memberi contoh yang baik dalam berbahasa. Kompetensi sosial untuk mengatur hubungan dengan siswa dan mempengaruhi siswa dalam interaksi sosial, menggunakan bahasa yang dapat diterima di sekolah tersebut. Kompetensi pedagogik yang dapat diterapkan dalam proses pendidikan. Mengajarkan bahasa yang benar-benar diterapkan dalam keseharian siswa. Kompetensi profesional untuk mengatur pelaksanaan peran yang konsisten dan optimal.
2) Orang tua dan keluarga
Kontribusi orang tua maupun keluarga memberikan bahasa ibu pada anak. Pengaruh pihak ini berperan dalam mengembangkan kemampuan kebahasaan dan lingkungan terdekat siswa.Orang tua lebih berperan memberikan pola pengasuhan dan anggota keluarga yang lain pengaruhnya pada kondisi lingkungan. Gaya bertutur yang baik dimulai dari lingkungan keluarga menuju lingkungan masyarakat yang lebih luas.
3) Konselor
Sebagaimana fungsi konselor untuk mengkonsultasikan dan menentukan solusi yang tepat dengan mempertimbangkan berbagai kondisi serta pihak lain. Selain itu konselor juga bisa menterapi siswa.
4) Komunitas Pemerhati anak
Komunitas tersebut dapat dijadikan rujukan siswa untuk membentuk masyarakat dan etnografi bahasa yang tidak menyimpang dari sistem sosial dan sistem nilai yang ada. Contoh komunitas ini seperti LSM smart parenting dan Pelangi Sastra
Penerapan Peran Pihak Terkait untuk Mengupayakan Solusi Penggunaan Ungkapan Alay
Solusi untuk permasalahan penggunaan bahasa alay dikaitkan dengan peran pihak-pihak pada subab di atas dijabarkan sebagai berikut.
1) Guru melibatkan komunitas pemerhati anak untuk mengobservasi siswa untuk menyimpulkan masalah-masalah yang benar-benar perlu diselesaikan dan siapa saja yang menjadi sasaran dari solusi yang akan dilaksanakan, berkaitan dengan penggunaan ungkapan alay di kelas IV.
2) Dari masalah yang ditemukan guru,diciptakan suatu usaha integratif yang melibatkan wali siswa, konselor, dan komunitas pemerhati anak. usaha ini diorientasikan pada habituasi penggunaan bahasa pada anak.
3) Usaha integratif pertama yaitu membahas permasalahan tujuan utamanya untuk memahamkan pada wali siswa.Harmonisasi pembiasaan tata bahasa dan pendidikan yang dapat diterima di masyarakat perlu diupayakan berbagai pihak dan berusaha menciptakan kegiatan kreatif agar tidak mematikan kreativitas siswa dalam berbahasa.
4) Langkah selanjutnya yaitu menentukan tugas masing-masing pihak.
Konselor pada kurun waktu tertentu mengadakan konsutasi kepada siswa dan memberikan saran-saran kepada siswa untuk memakai bahasa yang baku ketika dilingkungan sekolah.
Komunitas bersama guru menyelenggarakan kegiatan kreatif yang mengkolaborasikan penggunaan ungkapan alay dengan bahasa yang baku dan umum. Mengekspresikan ungkapan alay lewat seni teater atau puisi.
Guru membatasi penggunaan ungkapan alay disekolah dengan mengawasi dan memberi ganjaran yang tepat pada siswa. Serta menilai kemajuan penggunaan bahasa yang baku dan ketepatan kondisi penggunaan ungkapan alay.
Orang tua dan keluarga mengawasi dan mengkondisikan siswa ketika dilingkungan keluarga. Serta turut memberi motivasi untuk membiasakan bahasa yang tepat.
5) Dalam jangka waktu kira-kira 2 bulan guru mempresentasikan upaya solutif habituasi bahasa baku pada konselor, wali siswa, komunitas pemerhati anak untuk memperoleh tindak lanjut.
Daftar Pustaka :
Asrori, Mohammad. 2008. Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima.
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Efendy, A Kadarisman. 2009. Mengurai Bahasa Menyibak Bahasa. Malang : Penerbit Universitas Negeri Malang.
Hasanah, Mamluatul. 2007. http://jurnallingua.com/edisi-2007/7-vol-1-no-1/51-urgensi-dan-kontribusi-sosiolinguistik-dalam-linguistik-edukasional.html. (Online) diakses pada tanggal 7 November 2012
Severin. J. Werner, 2008. Teori Komunikasi(terjemahan). Jakarta : Kencana Perdana Media Group.
Sobur, Alex. 2009. Psikologi Umum. Bandung : CV. Pustaka Setia
TUGAS MATA KULIAH ; PROBLEMATIKA PENDIDIKAN SD YANG SAYA TEMPUH PADA SEMESTER 7



0 komentar:
Posting Komentar