“Hidup ini milik orang dewasa kita pura-pura
tua untuk melewatinya dan pura-pura menjadi anak kecil untuk menghindarinya”
jika dilengkapi “Hidup ini penuh sekat, pengkotakan, pelabelan. Saat label itu
di lepas kita bukan siapa-siapa lagi, (Malaikat Tanpa Sayap)”
Pernahakah
kamu memikirkan hal seperti ini –bayangimajiku-
“Memadu hati”
Hari ini
engkau masih sangat jatuh cinta dengan seseorang. Namun hatimu mulai jatuh
cinta dengan yang lain. Ah. –biasa-
Sebelum
reingkarnasi aku adalah Panji yang hidup di bukit yang menjadi batas kekuasaan 2 kerajaan, Garut dan Pekalongan.
Setelah aku jatuh cinta pada seorang puteri sunda, aku memadukan hatiku sendiri pada soerang gadis jawa.
Tak lebih memukau, namun terasa sangat mempesona....
Disitulah akan kugambarkan -sebenarnya-sambungmenyambung.
Entahlah, abaikan saja namanya. toh itu sebelum aku reingkarnasi sampai sekarang.
aku memang menyukai perawakan yang cantik jelita, sampai menggoda-goda senyum palsu ini.
Gadis jawa ini beda perawakannya dengan yang cantik jelita-yang aku sukai-
Bukan cantik, tapi dia sangat suka pamer dengan senyumnya, menawanku di sedalamnya penjara yang mengunci hati ini.
Kemudian kami semakin kenal, dan mulai bertemu lebih sering.
Oh aku lupa menyampaikan aku adalah seorang adipati muda yang mengabdi pada dua kesultanan yang sedang berkuasa. Pekalongan dan Rembang. Jabatan adipati ini diwariskan turun temurun sejak 4 generasi kakek moyang yang dulu. Kami sejak dulu diberi Pawiyataning Bakal Ratu - yang mendidik calon ratu.
Tugas kami sorang sebagai seorang adipati dengan gelar pawiyataning bakal ratu adalah mempersiapkan puteri atau pengeran muda untuk menjadi seorang pemimpin dimasanya kelak. Mematangkan warisan kepemimpinan.
bersambung.....



0 komentar:
Posting Komentar