Ibuk, Dalam Novel



0 komentar

Anomali kehidupan ibuk,
Judul buku      : Ibuk,
Penulis             : Iwan Setyawan
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : I, Juni 2012
Tebal               : 293 halaman
Peresensi         : M. Ziyan Takhqiqi A.

Kehidupan sederhana tidak akan menghalangi manusia meraih impiannya. Tinah membuka alur cerita ‘Ibuk’. Tinah yang tidak lulus SD. Pada usia 16 tahun mulai membantu neneknya berdagang baju di Pasar Batu. Disana, Tinah dan Cak Ali masih akan memulai sebuah kisah. Mereka saling mengantar. Tinah mengantar sarapan, Cak Ali mengantarkan tempe utnuk dibawa pulang. Mbok Pah, nenek Tinah berusaha menjodohkan perasaan mereka dengan gojlokan kuno. Namun segitu saja dan berlalu.
Cinta datang tepat waktu meskipun singkat silih berganti. Diantara tumpukan baju, keluguan dari tatapan balasan Ngatinah menjebak hati Sim si plaboy pasar. Satu malam Sim nekat mengetuk pintu hati dan rumah Tinah, tapi Sim masih punya pacar di Malang. Memang, Cinta membutuhkan sebuah keberanian untuk membuka pintu hati dan menutup lainnya. Sim secepatnya ingin mandiri dengan memutasi dirinya dari kenek ke sopir angkot. Satu moment, seharian Sim mengajak Tinah duduk di balik kemudi angkot untuk menegaskan ajakan kepada si Tinah, apakah ia mau hidup susah bersamanya. Momen itu menghasilkan momentum yang diinginkan. Tinah mengiyakan sepenuhnya ajakan itu. Sim pun telah membekukan keinginan ingin segera menikah. Tunas rumah tangga Tinah dan Sim muncul dengan bantuan Mbak Gik, kakak Sim.
Awal pelayaran antara playboy dan gadis lugu. Tiada janji kesetiaan, namun hati mereka sudah saling berikrar. Hidup yang lebih layak coba mereka capai dengan uang yang kadang kurang yang jika ada lebih pun jarang. Beban bertambah dengan lahirnya Isa, Nani, Bayek, Rini, dan Mira yang hanya ditindihkan pada hasil ngangkot. Sim dan Tinah meraih peran Bapak dan Ibuk. Di antara beban pula mereka mempersembahkan kelayakan utama untuk hidup bersama. Rumah mungil yang dibangun di gang buntu di bawah Gunung Panderman. Layaklah untuk tidur seperti barisan ikan pindang. Tabungan kesabaran menyisihkan hasil ngangkot Bapak sekian lama tahun menjadi rumah.
Ibuk menjadi pemimpin selepas bapak menghelak angkot. Kepemimpinan Ibuk dimulai dengan membagi porsi berkelas nasi goreng terasi, kelas mini yang tak akan menambah selapis saja lemak tubuh. Citarasa berbagi membuat seakan kekurangan tak ada buat Bayek dan keempat saudaranya. Kadang kehadiran cuilan empal menjadikan setiap porsi nasi goreng terasi amat spesial. Ibuk mengatur segalanya. Sekolah dengan buku warisan kakak, lubang jempol disepatu, sepatu baru cicilan, antrian SPP, tugas harian keempat anaknya, semua itu sudah biasa. Itu masih layak. Sekolah yang terpenting, Ibuk takut anaknya tak berpendidikan seperti dirinya. Ketika kami satu persatu ke jenjang yang lebih tinggi bertambah keraslah usaha Bapak mengumpulkan uang untuk Ibuk atur demi masa depan dan semuanya yang sedang berjalan. Itu bukan konflik, melainkan proses untuk bertahan demi impian.
Ibuk mengajarkan bertahan dalam kesederhanaan yang harus dikuatkan dengan usaha maksimal. Mungkin karena dejavu Mbah Carik yang diceritakan pada Ibuk “anak lanang yang membawa ember dibelakangmu, kelak akan membahagiakanmu”. Bayek si anak lanang pernah sangat menyusahkan banyak anggota keluarga. Bayek mati suri sejak dini hari sampai menjelang adzan Zuhur. Pasca mati suri tersebut hati Ibuk seperti ‘jatuh’ ketika melihat anak yang sakit. Hal kecil Ibuk putar dari rekaman ingatannya. Bapak sering membawakan roti mises dan pernah satu kali mengajak rekreasi kelima anaknya ketika masih bekerja pada tuannya yang keturunan China.
Hidup inilah anomali. Ibu sedih karena Isa harus bekerja selepas SMA, sedikit terobati ketika Nani bisa kuliah di Universitas Brawijaya. Entah, intuisi mengikuti puncak anomali atau tidak. Bayek diterima di Statistika IPB Bogor. Enggan dan rasa tak mampu Bayek ungkap ‘Entar kita makan apa kalau angkot dijual?’. Agar lebih tegar, Ibuk hanya berpesan agar Bayek belajar sing pinter. Empat tahun penuh kerinduan Bayek di Bogor untuk melunasi angkot yang terjual. Wartel disudut alun-alun Batu menyambung rindu ke kota Hujan tiap minggunya. Kejutan buat Ibuk dan Isa ketika menghadiri wisuda Bayek. IPK terbaik di MIPA berhasil Bayek capai. Ibuk yang tak pernah tau berapa dan apa itu IP.
Bayek bekerja di Jakarta. Ambisi-ambisi keras memimpinnya lembur untuk mengembalikan pengorbanan keluarga. Ketika lembur, Bayek menelpon Ibuknya untuk dijadikan partner. Bayek ingin dekat keluarga, tapi demi ambisinya ia berlayar, terus berlayar ke New York. Cerita melankolis dimulai lagi. Telpon membantu peran Ibuk pada diri Bayek. Frustasi kesulitan bahasa inggris, runtuhnya dua pilar gedung putih, peristiwa perampokan pada dirinya, promosi jabatan, sampai uang yang sudah ditransfer semua disampaikan lewat telfon dari Bayek ke Ibuknya. Nikmatnya promosi jabatan tak membuat perasaan rindu tanah air padam. Banyak pekerja yang putus kontrak akibat membaranya perasaan itu. Kehidupan rumah bangkit, sekarang bapak bolak-balik mengurus kos-kosan di Jogja. Saudaranya sudah menikah, Bayek punya keponakan.
Setelah 9 musim panas dan 10 musim gugur kota Batu menyambut kembalinya Bayek, impiannya pula. Menuju akhir cerita menceritakan kesibukan dari buah keberhasilan yang diraih Bayek.  Kota Batu dan New York menetaskan buku pertama, paduan fotografi keduanya. Memorial buku keluarga juga dituliskan oleh Bayek. Kini tinggal mengasuh keponakannya, membantu saudaranya, mengisi talkshow, dan mengokohkan cinta dalam keluarga. Bayek ingin menginspirasi anak sopir angkot untuk menulis.
Benar-benar berakhir novel ini, Bapak sakit, kemudian meninggal. Namun Ibuk tak berakhir untuk menguatkan Bayek dan para pembaca. Ungkapan elegan Pak Pramoedya menutup novel ini “A mother knows what her child’s gone through, even if she didn’t see it her self’,”. Universalitas ‘Ibuk’ mewakili siapa saja sasaran buku ini. Nilai kekeluargaan, selingan basa jawa membuat menarik, plus kata mutiara pada beberapa penjedaan buku. Dengan konflik yang mudah terselesaikan, pesan moral jadi dominan. Terlalu banyak deskripsi mendetail dan alur yang kuat, mengurangi sarat novel dekade ini yang memuat pengetahuan luas. Terlepas dari plus-minusnya “Ibuk” melengkapi warna-warni karya anak bangsa.

0 komentar:

Posting Komentar

newer post older post