Melepaskan Atribut Kesombongan



0 komentar
Berjajar calon penumpang Trans Jogja di trayek MONJALI lumayan lengang. Tujuh atau delapan orang menunggu kedatangan bus A1 menuju Mandala Krida. Kira-kira butuh waktu 25 menit menurut ukuran waktu yang diakumulasi dari denah Trans Jogja.  Sungguh istimewa sarana transportasi ini, cuman dengan tiga ribu rupiah bisa keliling Jogja meskipun tidak boleh turun dari trayek. Memang sangat cocok dengan daerah Jogja yang Luas, datar, memiliki banyak tempat wisata, bermacam tempat perbelanjaan, tentunya the great heritage “Keraton Jogja”, dan Jogja sendiri yang menjadi tempat ratusan ribu mahasiswa berkuliah di berbagai perguruan tinggi yang ada.

10 menit tepat setelah bus B2 berangkat, bus A1 tiba menjemput ke delapan penumpang termasuk aku. Menjelang keberangkatan kami sedikit pengumuman kalau A1 akan membutuhkan waktu 20 menit menuju trayek berikutnya. Karena ada sedikit perubahan trayek disebabkan adanya revitalisasi di beberapa trayek sehingga tidak bisa disinggahi dan harus memutar agak jauh. Bagi yang menuju ke  Mandala Krida dan Taman Pintar waktu tempuh yang terakumulasi sekitar 45 menit dengan melanjutkan pada trayek B3. Dua penumpang menunggu trayek lain untuk merubah rute perjalanan mereka.

“Kenapa tidak dari sebelum memasuki loket, kan sudah terlanjur mengeluarkan 3 ribu. Penumpang lain pun mungkin juga berpikiran begitu. Hidup di Jogja sekarang juga makin keras beberapa ribu pun juga harus tetap diatur pengeluarannya. Jika terlalu spekulatif pasti jadi korban kebodohan diri sendiri” gumamku dalam hati.

Entah kenapa rasanya aneh, beberapa penumpang yang baru masuk aku lihat berbeda sekali. Pertama adalah perempuan muda yang sangat modis seperti model, kedua adalah laki-laki  alim yang menurutku adalah ustad, ketiga mahasiswa kutu buku dengan kaca mata bulat yang khas, yang terakhir adalah aku sendiri tergambar sebagai remaja pemburu kesenangan. Seakan tak menyadari hal itu, terdiferensiasi dengan baik. Seolah  menggambarkan bagaimana manusia-manusia yang ada di masyarakat.

Di dalam bus ternyata sepi, jumlah keseluruhan penumpang termasuk kami berdelapan tadi 15 orang. Sudah sekitar 3 menit aku duduk belum terasa adanya suasana beramah tamah. Sudah menjadi kebiasaanku suka bertanya-tanya beberapa orang disampingku.

Beberapa lama bertanya aku menandai mereka dengan beberapa nama masing-masing. Tepat di sisi kiri ada mbak Farah dan sebelahya ada Aden cowoknya, kananku ada mbak Della (mbak yang modis tadi) kanannya lagi adalah Faren mahasiswi semester 1 UNY, di depannya ada mas Ustad dan kang Kutu Buku dengan kaca mata bulatnya, aku sungkan mau nanya. Aku sedikit salut pada mbak Della dan teh Faren yang begitu ramah menanggapi celotehan siswi SMK seperti aku. Mbak Della berasal dari Ngawi, ia di Jogja bekerja di Keraton batik Jogja sebagai model, Teh Faren sendiri adalah orang Cipanas. Memang baru semester satu namun jelas, aku tahu ia adalah gadis mandiri dan dewasa dari keramahannya bertutur, kesannya melekat padaku. Sesekali aku menggodai dengan keterbatasan celoteh sundaku.

Teteh Faren akan turun Mandala Krida sebelum UNY sama dengan tujuanku. Mbak Della mau ke Malioboro. Tapi kenapa kok memutar, jawabnya enteng lebih asik lewat Monjali dan daerah Taman Sari. “Lebih banyak yang bisa dilihat”.

Mbak Della dan teteh Faren banyak mengobrol dengan membagi pengalaman mereka masing-masing. Tak lama obrolan mereka meluas hingga kang yang Kutu Buku tadi ikut masuk dalam obrolan yang kian asyik. Ia melepas kacamatanya sambil memperkenalkan dirinya, lumayan enak dipandanglah kalo gitu. Kang Abdi namanya. Ia mahasiswa ternyata di ISI Jurusan Indoor Design. Sepertinya obrolan kita memang asik hingga terdesimenasi kemana-mana. Ternyata Kang Abdi menyimak dengan baik perbincangan kita tadi dan ia tahu persis siapa nama-nama kami.

20 menit, kami pun pindah ke Trayek B3 disana kami menunggu 10 menit lamanya. Ternyata kang Abdi ikut kami, mau ke Taman Pintar katanya. Mas yang kayak Ustad tadi ikut juga ternyata.

Perjalanan kami lanjutkan dengan Trans B3. Perbincangan kami lanjutkan juga. Kang Abdi coba mengajarkan sesuatu pada kami, menafsirkan kepribadian seseorang dengan pakian dan kombinasi atribut yang dikenakan.

“Kalian bertiga menurut penafsiranku punya pribadi yang unik. Kalian orang yang terbuka bukan?“ Ungkap dan tanya kang Abdi.

“Ya! Benar” jawab aku dan Mbak della.

“Teu ngartos kang hehe”  sahut teh Faren dengan sedikit senyum untuk menyamarkan jawabannya yang meyakinkan.

“Boleh aku lanjutkan?” Tanya kang Abdi.

“Sok atuh, gimana Mbak Della dan Dek Astri?” Jawabnya dan tanya kepada kami.

“Iya” aku dan Mbak Della senada.

“OK! Abdi mulai dari teh Faren. Dilihat dari kerudung besar yang kamu kenakan pasti kamu adalah seorang yang taat dalam beribadah dan melaksanakan syariat dengan baik. Warna baju yang mayoritas kalem dengan minimalis accesoris ataupun bordiran. Mungkin anda orangnya sederhana dan tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian. Lainnya pasti nilai ketawadhu’an selalu terjaga dalam kesehari-harian. Berapa nilai yang aku terima dalam menilai pribadi teteh?”

Tapi heran aku dibuatnya. Katanya Indoor Desaign, tapi kayak Psikolog saja.

“Hmmm alhamdulillah baik sekali penilaiannya. Yah! Aku bingung Kang harus memberi nilai berapa, sebaik akang menilai aku”.

“Aku! Aku!” Sahut mbak Della.

“Iya mbak Della. Sebelumnya nuhun teh penilaiannya. Mbak Della pakaian kamu meriah banget. Menggambarkan betapa menariknya pribadi kamu. Perempuan yang amat modis dan menyukai kemewahan. Merek sepatu asli gresik dan tas dari bali yang  mungkin kamu adalah tipe hunter of pleasure. Nampaknya anda membiarkan keserasian antara warna rambut dan hiasannya kontras dengan make up, menunjukkan percaya diri meskipun memiliki kelemahan. Sungguh pribadi yang optimis dan teguh berusaha. Namun sulit sekali aku yakin dengan penilaian aku. Banyak atribut yang menurutku mencerminkan pertentangan pribadi kamu”.

“Astagfirullah! kalian ini. Saling menilai satu sama lain. Sama saja dengan membuka aib di muka umum. Beginilah gambaran generasi-generasi hedonis. Mencerminkan watak  kesombongan pengarung zaman jahiliah. Melupakan akidah, menilai cuma dari apa yang dipakai.“ Ungkap Akang yang mirip ustad tadi sambil menyela.

“Maaf kak, kalau percakapan kami mengganggu kenyamanan sampean. O ya, apa memang suatu kesalahan jika kami ingin saling mengenal dengan saling melihat pakaian dan apa yang kami kenakan ini,,””  Dengan nada lemut dan rendah hati teh Faren mencoba merespon kalimat kang ustad tadi yang cukup mengusik perasaan.

Suasana menjadi sdikit mencekam. Kami ataupun ustad itu menjadi siaga. Seperti kucing sedang mengawasi tikus di depannya. Menunggu waktu yang tepat untuk mendekap, tikus pun juga mengawasi dan menunggu waktu yang tepat untuk lari dan benar-benar lepas dari sergapan kucing. Entahlah apa yang terjadi.

“Iya Mas Ustad. Maaf kalo pembicaraan kami gak sopan.” Mbak Della mencoba mencairkan suasana.

“Hah, kesombongan telah benar-benar melekat pada diri kalian. Lihat pakaianmu neng. Mewah, penuh perhiasan, mencolok, melekat rasa pamer pada semua orang. Entah macam apa etika pakaian seperti itu.” Ungkap orang mirip ustad tadi.

“Loh! Emang kayak gimana Ustad pakaian tidak mencerminkan kesombongan?” Sela Mbak Della.

“Pakaian muslimah seperti yang dikenakan teteh sebelahmu. Baru bisa kita banggakan. Bukan malah menanggalkan akidah saat berpakaian. Sungguh tercela.” Kata Ustad tadi.

“Astagfirullah Ust, perkataan anda sudah keterlaluan. Apakah harus seperti itu kalau ingin mengajarkan kebaikan anda?” Tanya kang Abdi.

“Apa katamu? Mengajarkan kebaikan? Paham saja belum?” Kata ustad tadi.

“Anda telah melanggar akidah anda sendiri, mencela orang-orang yang anda anggap kurang mengerti kebaikan.” Teh Faren membela.

“Bagaimana bisa kamu membela orang-orang yang jelas pamer dan sombong ini”. Tambah Ustad tadi.

“Oh, jadi itu masalahnya. Pamer dan kesombongan saya sangat mengganggu anda. Maaf kalo gitu.” Mbak Della menyodorkan tangan.

“Saya tidak mau berjabat dengan kaum mazmumah seperti kalian ini”. Ustad tadi menolak.

“Nampaknya anda makhluk surga ya, yang ke sini cuman ingin mencaci kami yang kotor”. Kang Abdi menimpali. Dari tadi aku cuman diam melihat mereka sambil memperkirakan waktu turun. Anehnya penjaga pintu Trans Jogja tidak melerai kami. Mungkin karena ia terlihat sangat belia dan sepertinya nampak seperti orang awam dengan kehidupan kota. Penumpang lainnya sangat cuek, menunjukkan karakter orang kota. Betapa aku adalah diriku dan kamu orang lain. Bukannya menjadi aku dan kamu adalah siapa dan siapa yang bersaudara. 3 menit lagi kemungkinan kami turun. Masalah selesai.

“Sebenarnya seberapa muliakah diri anda? Meskipun anda makhluk surga sekalipun kami memiliki hak untuk dihargai anda. Setidaknya untuk mendengarkan perkataan yang lebih baik dari anda atau menyampaikan maaf kami.”

“Tidak ada alasan untuk menghormati kalian dan menerima maaf kalian”. Jawab Ustad tadi ketus.

Kurang dari 1 menit lagi kami turun.

“Astagfirullah, memang benar atribut kesombongan melekat pada kami, itu cuman sebatas hedonisme fisik. Namun diri andalah yang mengenakan atribut kesombongan dalam hati anda. Ingat kami adalah anak Adam, Tuhanku memuliakan Adam dan seluruh keturunannya. Disinilah ketaatan di uji, seorang artis tidak akan menyombongkan apa yang di pakai saat-saat dibalik layar media, namun kenapa Kyai-kyai yang baru turun gunung menyombongkan ke-tawadhu’an dengan mudahnya di tengah kota. Terimakasih atas semua ungkapan anda. Maaf atas segala salah kami. Ini nomor handphone saya, lain kali kita bisa berbagi masalah seperti ini. Saya dan teman-teman harus turun di sini.” Dengan ekspresi yang kesal namun tetap disertai sikap keterbukaan teh Faren menyodorkan selembar kartu nama. Dengan nama lengkap Faren Nur Ilma.

Kami berempat turun tanpa memperdulikan ketegangan tadi, seakan lupa dengan tujuan masing-masing. Selepas turun Mbak Della turun kemudian menangis merasa dirinya ditempeli dosa dan kesalahan. Kami mencoba menguatkan hatinya. Sebuah ungkapan tajam Kang Abdi ungkapkan.

“Begitulah pejuang zaman sekarang tidak bertanggung jawab dan egois, hanya memenuhi target kontrak kerjanya saja tanpa memper-timbangkan kewajibannya untuk menjalin ikatan psikis dan sosial pada orang lain obyek dakwahnya”. Dengan tegas diungkapkan kang Abdi.

Cukup lama meneruskan perbincangan, ternyata akar permasalahan bisa lebih dicerna. Pendapat Kang Abdi mengenai relasi kepribadian dengan pakaian yang mereka kenakan bisa dipertanggungjawabkannya. Kang Abdi memang memiliki sedikit pengetahuan mengenai pembacaan karakter dari pakaiannya dari kuliah pemeranan yang pernah ia ikuti. Kang Abdi pecinta teater. Dan begitulah aku belajar, nampaknya sudah saatnya melepaskan atribut kesombongan, bukan hanya dari mewahnya pakaian dan tapi juga pribadi yang dilindungi pakaianku.

Menulis adalah untuk mengajarkan tanpa bersuara.

Menulis punya nilai....

( 1 Desember 2011, Ziyan )

0 komentar:

Posting Komentar

newer post older post